Putriku...
Kau dijadikan oleh ALLAH dengan anggota tubuh yang sempurna . Rambut yang hitam bersinar, hidung yang mancung dan bibr yang kemerah- merahan, raut wajah yang lembut lagi ayu, dan anggota badan yang tiada celanya . Cukup dan lengkap , syukur Alhamdulillah Putriku
Putriku...
Mengertilah .. sebagai tugu pertahanan dalam jiwa , lebih sopan dan cantiknya bila rambut yang hitam bersinar ituditutup dengan sehelai kain kerudung. Alangkah manisnya bibir kemerahan yang indah itu diisi dengan perkataan -perkataan yang suci , Zikirrullah. Alangkah indahnya jika raut wajah yang ayu itu dibasahi dengan air mata keinsyafan ... dipancari dengan cahaya nur , dihiasi dengan senyuman iklas ..alangkah baiknya putriku..
Putriku...
Kau adalah insan teristimewa. Itu adalah hakikat yang tersurat dan yang sebenar -benarnya . Ketahuilah putriku..kecantikan bukanlah segala-galanya , kecantikan bukanlah perbedaan antara manusia. Karena semua manusia adalah sama disisi ALLah, yang membedakan sesama manusia hanyalah amal ibadah,bekal kealam lain selepas mati nanti
Putriku...
Mahkota kewanitaan adalah penting bagimu, Aurat adalah pelindung dirimu.Percayalah dalam batas-batas yang ALLAH berikan kepadamu sebagai seorang wanita , ada hikmah yang tersembunyi disana
Putriku...
Janganlah kau bangga dan sombong dengan segala kelebihan yang kau miliki. Semua hanyalah pinjaman belaka,hanya sementara saja... suatu saat pinjaman itu akan diambil oleh yang punya
Putriku...
Sekali lagi ibu memohon maaf . Ibu meminta kepadamu sebagai seorang gadis muslim kamu harus berterimakasih kalau dinasehati demi kebaikan. Jadikanlah pengajaran , bahwa hidup di dunia ini hanya sementara . Mati tidak mengenal usia ..........Semoga ALLAH membuka hati dan pintu keinsyafan pada diri ibu dan dirimu
[ Adapted from Media Dakwah, Juni 2009 ]
Ungkapan hati Ibu mewakili ungkapan saya.
BalasHapusKarena kita sama-sama dianugerahi seorang putri yang menjadi amanah bagi kita.
Hmm.... puisi yang indah.
Saya tunggu komentar tentang sahabat di blog saya Bu...
Terimakasih bu Lilis
BalasHapus